Diare, Apa Penyebabnya?

penyebab diare

Diare memang selalu menyebabkan rasa tidak nyaman, tidak tenang, dan tubuh lemas. Namun, tidak bisa dipungkiri, penyakit yang disebabkan permasalahan pencernaan merupakan penyakit yang sangat umum terjadi. Berdasarkan WebMD, rata-rata orang dewasa dapat mengalami diare hingga empat kali dalam setahun. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak biasanya memiliki risiko mengalami diare sebanyak 7 hingga 15 kali, khususnya pada balita.

Beragam penyebab dari faktor harian seperti makanan, obat-obatan, atau stres dapat menjadi penyebab terjadinya diare. Namun, diare kadang-kadang dapat pula menjadi tanda pada kondisi medis tertentu. Berikut ini adalah beberapa beberapa pemicu umum yang menjadi penyebab diare terjadi dan bagaimana cara untuk bisa mengatasinya.

Bakteri Penyebab Diare
Bakteri merupakan organisme yang hidup berdampingan dengan manusia. Beberapa di antaranya memiliki manfaat bagi tubuh, tetapi ada pula yang memberikan dampak buruk bagi kesehatan manusia. Salah satu di antaranya adalah dampak untuk kesehatan organ pencernaan akibat kesalahan mengonsumsi makanan. Pasalnya, bakteri dapat hidup dan berkembang biak dengan subur dalam daging mentah, telur, kerang, dan susu yang tidak dipasteurisasi.

Untuk mengurangi risiko diare terkait bakteri, Anda perlu memasak daging, unggas, dan telur hingga matang sepenuhnya. Jangan lupa untuk selalu mencuci tangan, peralatan, dan membersihkan tempat Anda memasak. Selain itu, pastikan juga untuk selalu menyimpan makanan di tempat yang dingin dan jangan biarkan makanan berada dalam suhu kamar lebih lama dari waktu yang seharusnya.

Selain itu, jika Anda sering makan di luar rumah, pastikan juga untuk memilih tempat makan yang bersih dan memiliki sertifikat kebersihan dan keamanan dapur yang baik. Dengan begitu, bisa dipastikan makanan yang Anda konsumsi benar-benar bersih.

Virus Penyebab Diare
Beberapa infeksi virus juga dapat menjadi penyebab terjadinya diare dan muntah. Virus penyebab diare dan muntah ini sangat mudah untuk menular. Bahkan, bisa sangat dengan cepat berpindah dari tangan yang tidak sering dibersihkan. Selain itu, minum dari wadah yang sama, makan dari peralatan makan yang sama, dan menggigit makanan yang sama juga dapat berisiko memberikan jalan bagi virus untuk masuk ke perut Anda.

Sama seperti pencegahan diare yang disebabkan bakteri, Anda dapat menghindari virus penyebab diare dengan selalu mencuci tangan, membersihkan dapur, dan membatasi diri dari membagi makanan bersama. Apalagi jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami diare, pastikan untuk tidak membagi makanan atau minuman dari wadah yang sama.

Penyebab Diare Saat Traveling
Delhi Belly dan Montezuma’s Revenge adalah dua sebutan untuk pengalaman tidak menyenangkan yang dialami para pelancong. Bergantung pada negara yang dikunjungi, sekitar 30% dan 70% traveler mengalami serangan diare dan muntah akibat kontaminasi dari makanan lokal atau air kotor. Jika Anda bepergian ke negara berkembang, hindari untuk mengonsumsi makanan dari produk mentah dan minum air langsung dari keran. Makanlah hanya makanan yang dimasak yang disiapkan di dapur yang bersih dan minum dari air minum kemasan. Bahkan, pertimbangkan untuk menyikat gigi dengan air keran. Meskipun begitu, Anda tidak perlu terlalu khawatir, sebab diare yang dialami pelancong biasanya hanya berlangsung selama sakitar 12 jam saja.


Diare Kronis
Pada beberapa kasus, diare juga dapat menjadi penyakit yang cukup serius dan tidak hilang dengan sendirinya. Diare kronis memiliki banyak kemungkinan penyebab, mulai dari efek samping obat, alergi, hingga intoleransi terhadap makanan tertentu. Penyakit diare yang persisten dan berulang-ulang juga bisa menjadi tanda adanya kondisi kesehatan yang serius.

Mengatasi Diare
Hal utama yang harus diperhatikan adalah rehidrasi tubuh. Air memang dapat menggantikan cairan tetapi tidak dapat mengatasi hilangnya elektrolit melalui diare. Elektrolit ini merupakan mineral yang dapat membantu tubuh Anda mengelola kadar cairan, aktivitas otot, dan beragam fungsi penting lainnya. Anda dapat mengonsumsi sup dan kaldu dengan natrium, minuman dengan kandungan buah-buahan atau cairan rehidrasi seperti Ceralyte, Oralyte, atau Pedialyte. Namun, perlu diingat bahwa tidak disarankan untuk menggunakan minuman olahraga dalam mengatasi dehidrasi setelah diare.

Selanjutnya, perhatikan pula asupan makanan bergizi dengan memilih makanan yang hambar dan bersih. Ketika Anda sedang diare, makanan yang sangat bisa diandalkan untuk menenangkan perut adalah sup dan kaldu. Ketika Anda merasa tubuh Anda sudah siap, Anda dapat menambahkan daging tanpa lemak, yogurt, buah-buahan, sayuran, dan karbohidrat kompleks seperti nasi, kentang, dan roti.

Pastikan juga untuk selalu menghindari pemicu makanan. Untuk mengakhiri diare, hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein dan banyak kandungan gula. Selain itu, pastikan pula untuk menghindari makanan pengganti gula dan makanan yang digoreng atau berlemak. Istirahatkan juga tubuh dari makanan berserat tinggi, makanan pedas, produk susu, dan makanan yang diketahui membuat perut bergas, seperti kacang-kacangan, brokoli, dan kol.

Terakhir, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan kapan pun dan di mana pun. Ketika Anda mengalami diare, cucilah tangan lebih sering daripada biasanya, khususnya setelah pergi ke kamar mandi dan sebelum makan. Jangan sampai Anda menularkan penyakit ini pada keluarga dan teman-teman. Jangan lupa pula untuk selalu memerhatikan gejala yang Anda rasakan dan pastikan diri Anda tetap terhidrasi serta mendapatkan asupan gizi cukup sampai diare sembuh. Jika masalah berlanjut lebih dari dua hari, segera dapatkan bantuan medis.

Read More

Tips Menjaga Keamanan Anak-Anak Saat Olahraga

tips menjaga keamanan anak saat olahraga

Ketika anak-anak bermain sepeda atau bola, mereka hanya memikirkan cara bersenang-senang dan memberikan tendangan atau kayuhan sepeda yang cepat dan kencang. Tanpa disadari, hal tersebut merupakan penyebab umum kecelakaan hingga cedera olahraga yang terjadi pada anak-anak. Perlu diketahui, bersepeda, bola basket, sepak bola, berseluncur, baseball, softball, dan bermain di taman bermain serta melompat di trampolin adalah deretan olahraga favorit dan kegiatan rekreasi yang banyak menimbulkan cedera pada anak-anak usia 5-12 tahun.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam edisi November/Desember 2001 dalam Journal of American Academy of Orthopedic Surgeons, ruang gawat darurat rumah sakit dan klinik di Amerika Serikat menangani setidaknya sekitar 2,2 juta kasus patah tulang, dislokasi, dan cedera otot pada anak-anak yang mengalami kecelakaan pada kegiatan rekreasi di tahun 2000.

John M. Purvis, MD, seorang asisten profesor klinis bedah ortopedi dan rehabilitasi di Universitas Mississippi Medical School di Jackson mengungkap bahwa otot, tulang, ligamen, dan tendon anak-anak yang masih masih bertumbuh kerap menyebabkan anak-anak lebih mungkin mengalami cedera daripada orang dewasa. Ditambah lagi dengan kegiatan bermain anak-anak yang kadang-kadang lebih berisiko.


Bermainlah dengan Aman
Aktivitas fisik seperti olahraga sangatlah penting untuk perkembangan dan pertumbuhan anak-anak. Akan tetapi, penekanan mengenai pentingnya mengikuti panduan keselamatan dan menggunakan alat pelindung juga harus diimbangi agar angka cedera olahraga pada anak dapat berkurang. Itulah sebabnya pengawasan untuk mengajak anak bermain dengan aman sangat penting untuk selalu dilakukan oleh orangtua dan guru.

Hal pertama yang harus dipastikan sebelum anak masuk ke dalam lapangan bermain adalah pemeriksaan kondisi fisik. Selain itu, anak-anak juga harus memahami beberapa arahan lain, seperti:

  • Mengetahui dan mengikuti aturan olahraga.
  • Mengenakan perlengkapan pelindung yang tepat–seperti pelindung tulang kering untuk sepak bola, helm ketika menghadapi pitcher baseball, atau sepatu yang sesuai serta dikenakan dengan benar apa pun olahraganya.
  • Mengetahui cara menggunakan peralatan olahraga.
  • Melakukan pemanasan sebelum bermain.
  • Hindari bermain ketika lelah atau sakit.


Olahraga Sekolah pada Remaja
Berbeda dengan anak-anak yang mengalami cedera karena jatuh dari sepeda, trampolin, atau skuter, anak-anak remaja biasanya akan mengalami luka dan cedera ketika pendapatkan benturan keras saat bertabrakan di pertandingan basket atau sepak bola. Cedera olahraga yang terjadi para remaja di sekolah itu harus mendapat perhatian lebih. Pasalnya, struktur tulang remaja belum sepenuhnya matang. Hal ini membuat mereka lebih rentan mengalami berbagai jenis cedera dibandingkan dengan atlet yang lebih tua. Bahkan, para atlet muda di sekolah juga dapat menderita osteochondritis (peradangan tulang rawan) dan spondylolisthesis (suatu kondisi di mana tulang belakang bergeser ke depan).

Jangan Sepelekan Cedera
Meskipun cedera tampak ringan, anak-anak dan remaja memerlukan perhatian medis yang cepat dan tepat. Para orangtua dan pelatih juga tidak boleh memaksa mereka yang mengalami cedera untuk melanjutkan aktivitas karena berisiko menyebabkan kerusakan permanen dan hingga penyakit yang serius, seperti osteoarthritis.

Perlu diingat bahwa keparahan sebuah cedera tidak hanya dapat dilihat dari seberapa parah rasa sakit yang timbul saat luka terjadi. Cedera ringan seperti jari yang terkilir bisa menyakitkan, sedangkan cedera serius seperti gegar otak atau cedera leher tidak menimbulkan rasa sakit yang parah. Jangan heran jika dokter akan memperlakukan pasien dengan cedera kepala lebih serius. Apalagi jika mereka mengalami kehilangan memori, sakit kepala, atau mual saat berlari.

Read More