Category Kesehatan Mental

Mengenal Gejala dan Penyebab Gangguan Skizoid

Mengenal Gejala dan Penyebab Gangguan Skizoid

Salah satu jenis gangguan kepribadian ada yang disebut skizoid, yaitu kondisi di mana penderitanya tidak mampu membentuk hubungan sosial. Mereka dengan kondisi ini akan menghindari interaksi dengan orang lain dan juga enggan untuk terlibat dalam aktivitas sosial. 

Penderita skizoid akan memiliki sifat yang dingin, tidak menikmati momen apa pun, tidak menunjukkan reaksi apapun saat dipuji maupun dikritik. 

Penyebab Terjadinya Gangguan Skizoid

Sebenarnya, belum diketahui pasti apa penyebab dari gangguan kepribadian skizoid ini, Hanya saja faktor yang berperan penting yang mengembangkan gangguan ini bisa dari lingkungan dan genetik, terlebih pada anak usia dini. 

Faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan skizoid adalah:

  • Masa kanak-kanak yang suram, maksudnya ketika tidak ada kehangatan dan emosi yang didapat.
  • Memiliki orang tua atau kerabat yang mengalami gangguan kepribadian skizoid, skizotipal, atau pun skizofrenia.
  • Memiliki orangtua yang juga bersikap dingin, tidak responsif, atau lalai pada kebutuhan emosional anak.

Skizoid ini akan berpotensi mengalami gangguan kepribadian lain seperti gangguan kecemasan atau pun depresi mayor ketika tidak segera ditangani. Kondisi ini tentu akan memperburuk kehidupan penderitanya.

Gejala dan Tanda Seseorang Menderita Skizoid

Umumnya gejala skizoid ini baru dimulai di fase awal dewasa. Namun, ada juga ciri atau gejala yang sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Ada beberapa tanda atau gejala yang menunjukkan seseorang tersebut menderita skizoid, seperti:

  • Memilih untuk melakukan aktivitas sendiri
  • Lebih suka menyendiri
  • Terlihat seperti tidak memiliki selera humor
  • Tidak menikmati hubungan dekat bahkan mungkin tidak menginginkannya
  • Tidak merasakan kesenangan
  • Bersikap dingin atau acuh tak acuh pada orang lain
  • Mengalami kesulitan ketika bereaksi dan saat mengekspresikan emosi dengan tepat pada situasi tertentu
  • Tampak kurang motivasi dan tujuan
  • Biasanya tidak menikah
  • Saat dikritik atau dipuji orang lain biasanya tidak akan bereaksi
  • Sering kali melamun
  • Tidak tertarik pada hubungan seksual
  • Tidak punya teman dekat

Jika penderita gangguan skizofrenia dan skizotipal mengalami halusinasi, paranoid, atau memiliki pola percakapan yang aneh, penderita skizoid biasanya tidak mengalami hal tersebut. Saat berbicara mereka biasanya masih masuk akan.

Hanya saja, penderita gangguan kepribadian skizoid akan susah untuk menjalin hubungan sosial saat di sekolah, di tempat kerja, maupun di tengah masyarakat yang membutuhkan interaksi sosial.

Seberapa Sering Adanya Gangguan Skizoid Ini?

Sebenarnya sulit menilai dengan akurat prevalensi gangguan ini, sebab penderita skizoid jarang sekali mencari pengobatan. 

Gangguan kepribadian yang masuk pada gangguan kepribadian eksentrik ini lebih sering diderita oleh laki-laki dibanding perempuan. Dan biasanya juga dialami oleh orang yang punya keluarga atau kerabat dekat yang juga mengidap skizoid. 

Komplikasi Gangguan Kepribadian Skizoid

Komplikasi utama dari gangguan skizoid ini adalah kurangnya interaksi sosial dengan orang lain. Orang yang menderita skizoid juga akan jarang terlibat perkelahian atau melakukan kekerasan. Hal ini karena mereka tentu saja memilih untuk tidak berinteraksi dengan orang lain. 

Komplikasi lain yang mungkin juga terjadi adalah adanya gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, dan gangguan kepribadian lainnya.

Namun, penderita skizoid ini tetap bisa berfungsi normal dalam kehidupan sehari-hari, meskipun sikapnya aneh. Hanya saja mereka tidak membentuk hubungan yang bermakna dan tidak memiliki keluarga mereka sendiri. Bahkan menurut penelitian, orang yang menderita gangguan ini biasanya akan mengalami masalah keuangan, sosial, hingga masalah pekerjaan.

Read More

Mari Mengenal Disorientasi: Penyebab dan Penanganannya

Seseorang yang merasa sering kebingungan terutama dengan level parah dapat dikatakan menderita disorientasi. Apakah itu disorientasi? Disorientasi adalah ketika terjadi perubahan kondisi mental seseorang sehingga menyebabkan kebingungan tentang waktu, lokasi, bahkan identitas diri sendiri. Disorientasi yang dialami bisa saja merupakan gejala dari penyakit tertentu. Oleh karena itu, penderita disorientasi membutuhkan bantuan dari dokter.

Penyebab disorientasi

Penyebab seseorang mengalami disorientasi tidak selalu sama sebab terdapat bermacam jenisnya. Berikut ini merupakan beberapa penyebab disorientasi.

  • Demensia

Penyebab paling umum seseorang mengalami disorientasi adalah demensia yang bersifat permanen dan konsisten. Demensia adalah kondisi tertentu yang berpengaruh pada perilaku, pikiran, dan kemampuan melakukan kegiatan keseharian. 

  • Delirium

Secara umum, penderita yang mengalami demensia juga mengalami delirium. Kondisi delirium sendiri disebabkan oleh adanya gangguan mendadak pada pikiran seseorang. Hal ini dipicu oleh infeksi tertentu atau obat-obatan. Delirium terbagi menjadi 3 jenis yaitu delirium hiperaktif, delirium hipoaktif, dan delirium campuran. Delirium berkembang lebih cepat dibangingkan demensia.

  • Efek samping obat

Selain demensia dan delirium, efek samping obat-obatan juga bisa menjadi penyebab diorientasi. Penggunaan alkohol dan ganja dalam jumlah berlebih dan tidak terkontrol juga bisa menyebabkan terjadinya disorientasi.

  • Gangguan mental

Stres karena tekanan yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan mental yang kemudian menyebabkan terjadinya disorientasi. Gangguan mental tersebut bisa bermacam-macam jenisnya.

  • Penyebab lainnya

Selain 4 hal yang disebutkan sebelumnya, disorientasi juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor tambahan yang dipicu gangguan medis. Beberapa penyebab disorientasi tersebut yaitu epilepsi, hipotermia, stroke, sepsis, gagal ginjal, dehidrasi, demam, hipoksia, serta berbagai kondisi medis lainnya.

Berbagai gejala disorientasi

Ketika seseorang mengalami disorientasi, terdapat gejala penyerta yang muncul. Berikut ini beberapa gejala penderita disorientasi.

  • Kebingungan

Gejala paling umum pada penderita disorientasi adalah terjadinya kebingungan. Hal ini menyebabkan penderita disorientasi tidak dapat berpikir dengan jelas seperti biasanya, sulit berkonsentrasi, dan menjadi bergerak lebih lambat. Kebingungan yang muncul biasanya terhadap waktu, lokasi, dan identitas diri. Kebingungan yang dialami dapat menyeluruh atau sebagian saja, misalnya hanya bingung lokasi, tergantung pada tingkat keparahan disorientasi yang dialami.

  • Delusi dan halusinasi

Penderita disorientasi juga dapat memiliki gejala berupa delusi dan halusinasi. Keduanya mungkin mirip namun sebenarnya dua kondisi berbeda. Delusi adalah ketika seseorang meyakini hal-hal tertentu terjadi padahal sebenarnya tidak terjadi. Sedangkan halusinasi adalah ketika seseorang meyakini mendengar atau melihat hal-hal tertentu padahal tidak ada.

  • Agitasi

Gejala lain yang muncul pada penderita disorientasi yaitu agitasi. Hal ini dijelaskan sebagai munculnya perasaan gelisah dan marah tanpa sebab. Agitasi sendiri termasuk dalam kondisi gangguan kejiwaan yang juga membutuhkan penanganan dari dokter.

Penanganan disorientasi

Penanganan disorientasi perlu dilakukan dan membutuhkan bantuan medis sebab jika semakin parah dapat memperburuk kesehatan seseorang. Berikut ini beberapa cara untuk mengatasi disorientasi.

  • Melakukan serangkaian tes khusus

Langkah pertama untuk menangani disorientasi adalah dengan membawanya ke dokter. Nantinya dokter akan melakukan serangkaian tes khusus untuk mengetahui penyebab disorientasi. Diagnosis penyebab disorientasi tidak bisa dilakukan sendiri.

  • Pemberian obat sesuai penyebab disorientasi

Setelah dokter mengetahui penyebab disorientasi, maka penanganan lebih lanjut dapat dilakukan. Dokter akan memberikan resep obat tertentu yang sesuai untuk menangani disorientasi seseorang sesuai penyebabnya.

  • Menciptakan lingkungan yang akrab

Untuk mempermudah penderita disorientasi mengurangi kebingungannya, sebaiknya ciptakan lingkungan yang akrab dan sama setiap harinya. Atur dan letakkan benda-benda di tempat yang sama. Hindari membuat perubahan yang mendadak pada lingkungan tempat tinggal penderita disorientasi.

Untuk mencegah terjadinya disorientasi, Anda dapat mengupayakan agar tidak terkena demensia atau delirium. Kedua hal tersebut merupakan penyebab disorientasi yang paling utama. Beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu dengan menciptakan lingkungan dan pola hidup sehat. Anda sebaiknya mengatur pola makan, tidur berkualitas, menghindari suara bising, serta menjaga kesehatan lingkungan. Anda dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter jika memiliki gejala diorientasi sehingga bisa mendapat penanganan yang tepat.

Read More

Ingin Menenangkan Pikiran, Lakukan Cara Mudah Berikut Ini!

cara menenangkan pikiran

Berbagai aktivitas hingga masalah di sekitar memang kerap menjadi beban yang kadang mengganggu pikiran. Jika Anda ingin mencari cara menenngkan pikiran, beberapa langkah berikut ini mungkin bisa Anda coba lakukan!

  • Bernapas

Kita memang bernapas setiap hari. Tapi ketika bernapas dilakukan dengan lebih hati-hati dan penuh kesadaran, maka ada efek lain yang bisa kita rasakan. Perhatikan ritmenya. Jika Anda mengambil napas pendek dan cepat, cobalah bergerak ke arah yang lebih lambat dan lebih dalam.

  • Melihat Ikan Berenang

Orang-orang yang memiliki akuarium di dalam rumahnya cenderung merasa lebih tenang, santai dan tidak stres. Sebuah penelitian menyebut bahwa semakin banyak komponen makhluk hidup yang ditambahkan, maka semakin bahagia orang yang melihatnya.

  • Berolahraga

Bukan rahasia lagi jika berolahraga bisa membantu tubuh mengeluarkan endorfin yang akan membuat seseorang merasa senang. Olahraga juga bisa meningkatkan mood, fokus dan kualitas tidur Anda.

  • Mendengarkan Musik

Mendengarkan musik bisa menenangkan otak dan membuat jumlah neuron yang terbakar di amygdala berkurang. Musik adalah obat untuk Anda yang mengalami masalah psikis.

  • Menolong Orang Lain

Melakukan sesuatu untuk orang lain ternyata bisa membantu menurunkan tingkat stres sekaligus mengurangi rasa kesepian. Kesehatan jantung hingga respon imunitas tubuh pun bisa meningkat karenanya.

  • Keluar dari Ruangan

Dikelilingi oleh pemandangan alami bisa membantu seseorang berpikir lebih jernih, merasa tenang dan segar. Ketika berada di tempat dengan pemandangan serba hijau, otak tidak perlu bekerja terlalu keras. Ini sangat baik untuk membantu Anda meningkatkan konsentrasi, menurunkan tekanan darah hingga mengurangi tingkat hormon stres.

  • Lakukan Relaksasi Otot

Tubuh dan pikiran memiliki koneksi. Gunaka koneksi ini untuk membantu menenangkan pikiran. Raih kaki atau tangan Anda, tahan selama beberapa saat kemudian lepaskan. Anda akan merasakan bedanya tidak hanya di tubuh tapi juga di pikiran.

  • Berjalan-jalan dengan Hewan Peliharaan

Jika Anda punya seekor anjing, mengajaknya keluar dan berkeliling  di taman dekat rumah atau sekadar bermain-main dengannya akan sangat membantu mengurangi kecemasan, kebingungan dan tekanan pikiran lainnya. Ini adalah manfaat khusus yang didapatkan orang-orang dengan hewan peliharaan.

  • Membayangkan Hal Bagus

Pikirkan satu tempat kesukaan yang bisa membuat Anda merasa bahagia. Bayangkan tempat itu ada di depan Anda dan rasakan bagaimana aroma dan suasana di sana. Audio pendukung juga akan sangat berguna membantu Anda menenangkan diri dengan cara membayangkan tempat-tempat kesukaan Anda.

  • Melakukan Yoga

Latihan pernapasan dalam yoga diketahui akan membantu Anda mengatasi stres dan kecemasan berlebih.

  • Berkreasi

Hobi menggambar, berkebun atau membuat kerajinan tangan? Coba lakukan hal-hal tersebut di waktu luang untuk membantu menghilangkan ketegangan.

  • Istirahatlah

Meskipun sedang tidak bekerja, pikiran bisa saja lelah karena berbagai hal. Cobalah untuk berjalan ringan, mengobrol dengan teman atau sekadar mengosongkan pikiran dari hal-hal yang memberatkan. Ini akan membantu pikiran Anda jadi lebih jernih.

  • Biofeedback

Teknik ini mengajarkan Anda untuk mengendalikan reaksi Anda terhadap stres. Berkonsultasilah dengan terapis, kemudian lakukan pemeriksaan untuk mengetahui gelombang otak, suhu kulit dan pernapasan. Dengan mengetahui seberapa besar tingkat stres, Anda bisa mencari cara paling tepat menanganinya.

Dengan melakukan beberapa langkah menenangkan pikiran di atas, dapatkan kualitas kesehatan mental yang lebuh baik.

Read More